Ada masa aku dibutakan olehmu. Nalar dan logikaku tak berjalan karena cintaku. Aku tak lagi menjadi diriku lagi ketika denganmu. Aku berusaha menutup mata dan telingaku akan segala sesuatu tentangmu yang menyesakkan dada. Entah karena cinta atau obsesiku terhadap kamu. Sekalipun kamu berulang kali menancapkan belati ke dadaku. Tak kulihatpun itu sebagai belati. Aku selalu percaya bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku hanya cara kita yang berbeda. Namun semakin aku melaluinya, segala hal yang meyesakkan dada tak dapat kutepis lagi. Aku kembali bertanya akan cintamu. Kuputuskan bahwa diriku akan hidup tanpamu. Mencoba menghapus sosokmu yang membelenggu hati dan fikiranku. Tapi sepertinya menghapus tentangmu tak akan pernah bisa. Sehingga aku memilih melanjutkan hidup dengan kenangan pahit yang kamu berikan. Menyesakkan memang, namun aku harus terbiasa tanpamu. Berdamai dengan sakit yang kamu berikan. Hingga terhapus oleh waktu dan penggantimu kelak.
Labels
- Bacaanku (1)
- Bahasa Inggris (1)
- Belajar Islam (5)
- Catatanku (31)
- Cerpenku (2)
- Education (1)
- Family (1)
- Ilmu (1)
- Just Me (10)
- Masak (1)
- Me anD Friends (5)
- Movie Quotes (1)
- My favorite Place (1)
- Our Story (2)
- Story (1)
- Tauhid (2)
- Tugas (6)
Followers
Find me on Fb
Showing posts with label Catatanku. Show all posts
Showing posts with label Catatanku. Show all posts
Sunday, March 19, 2017
Love is Patience
Cinta adalah kesabaran. Cinta adalah perjuangan untuk melawan ketidaksabaran. Cinta adalah proses menuju kesabaran. Bukan cinta jika tak sabar.
Dan aku memilih sabar karena cinta. Bersabar dengan waktu, bersabar dengan jarak, bersabar dengan keadaan, bersabar dengan proses, dan bersabar dengan dirimu.
Aku memilih sabar, karena kau juga memberikanku sebuah kesabaran. Bersabar dengan jarak, waktu, proses, dan juga kekuranganku.
Kita bersabar karena cinta.
Karena cinta adalah sabar
Categories
Catatanku
Saturday, November 28, 2015
Waiting
Hey Kau, yang membuat aku menunggu selama ini di tengah tetesan hujan
Sadarkah, dirimu bahwa ada aku yang sedang berdiri disini
Entah, sudah berapa lama aku berdiri disini
Kau yang terlalu tenggelam dengan hangatnya senja
Hingga tak kau sadari aku berada dalam dinginnya hujan
Janganlah sampai aku lelah menunggu ditempat ini..
Ah., bukan,, aku tak pernah lelah menunggu dan berdiri di tempat ini
Aku hanya takut jika bulir-bulir hujan menjadikan hatiku dingin dan beku terhadapmu
Sadarkah, dirimu bahwa ada aku yang sedang berdiri disini
Entah, sudah berapa lama aku berdiri disini
Kau yang terlalu tenggelam dengan hangatnya senja
Hingga tak kau sadari aku berada dalam dinginnya hujan
Janganlah sampai aku lelah menunggu ditempat ini..
Ah., bukan,, aku tak pernah lelah menunggu dan berdiri di tempat ini
Aku hanya takut jika bulir-bulir hujan menjadikan hatiku dingin dan beku terhadapmu
Sehingga hatiku akan menjadi mati rasa padamu
Dan ketika kau datang kelak membawa payung teduh itu
Hatiku mati rasa untuk menerimanya
Dan ketika kau datang kelak membawa payung teduh itu
Hatiku mati rasa untuk menerimanya

Categories
Catatanku
Friday, November 27, 2015
Dalam Cangkir
Rasanya ingin menggunting jarak
makin tunas rasanya, rasa yang ada
rindu yang terjalin mengerat dan berat
memindahkan tubuh pada ruang sunyi lagi
di beranda berpetak
meminjam nada-nada dan suara-suara yang disuka
kemudian mengalun dan bersenandung sendiri
selagi senja menghangat
dirimu teraduk dalam cangkir senja yang membumi
secangkir kopi dan imajinasi
kusesap dalam-dalam
dan rindu bertebaran memenuhi warna pelangi di kejauhan
makin tunas rasanya, rasa yang ada
rindu yang terjalin mengerat dan berat
memindahkan tubuh pada ruang sunyi lagi
di beranda berpetak
meminjam nada-nada dan suara-suara yang disuka
kemudian mengalun dan bersenandung sendiri
selagi senja menghangat
dirimu teraduk dalam cangkir senja yang membumi
secangkir kopi dan imajinasi
kusesap dalam-dalam
dan rindu bertebaran memenuhi warna pelangi di kejauhan
Categories
Catatanku
Saturday, September 26, 2015
Jarak
Ada rindu yang tertitip, ada cinta yang terjaga
Ada curiga yang terpendam, ada hati yang bertahan
Ada setia yang teruji, ada cemburu yang terlintas
Nuansa yang dihadirkan oleh sebuah jarak
Jarak aku dan kamu
Jarak tak berarti jurang pemisah sebuah hubungan
Yang akan menjadikan kita menjadi aku dan kau
Tapi sebuah tantangan untuk kita lewati
Kadang, kita butuh jarak untuk saling melihat
Melihat seberapa sungguh kita dalam cinta
Seberapa kuat hati kita tuk bertahan
Hingga pada saatnya tiba
Akan hadir cinta yang kokoh
Yang selalu tetap rindang untuk ditempati
Ada curiga yang terpendam, ada hati yang bertahan
Ada setia yang teruji, ada cemburu yang terlintas
Nuansa yang dihadirkan oleh sebuah jarak
Jarak aku dan kamu
Jarak tak berarti jurang pemisah sebuah hubungan
Yang akan menjadikan kita menjadi aku dan kau
Tapi sebuah tantangan untuk kita lewati
Kadang, kita butuh jarak untuk saling melihat
Melihat seberapa sungguh kita dalam cinta
Seberapa kuat hati kita tuk bertahan
Hingga pada saatnya tiba
Akan hadir cinta yang kokoh
Yang selalu tetap rindang untuk ditempati
Categories
Catatanku
Sunday, May 24, 2015
Perumpamaan Layang-layang Itu
Perumpamaan layang-layang itu
Seperti itulah kita berdua
Kamu nahkodanya, sedang aku si layang-layang itu
Dan benang adalah cinta kita
Kemampuan gerakan tanganmu memainkan untaian benang yang menghubungkanku
Irama angin yang harus kau bersahabat dengannya
Kamu bisa menerbangkanku tinggi atau bisa membuatku lepas dan terbang terbawa angin
Ketika aku terlepas dan terbang jauh sungguh sangat jauh
Apakah kakimu rela berlari mengejarku?
Apakah kakimu rela memanjat tebing tinggi ketika aku berada disana?
Seperti itulah kita berdua
Kamu nahkodanya, sedang aku si layang-layang itu
Dan benang adalah cinta kita
Kemampuan gerakan tanganmu memainkan untaian benang yang menghubungkanku
Irama angin yang harus kau bersahabat dengannya
Kamu bisa menerbangkanku tinggi atau bisa membuatku lepas dan terbang terbawa angin
Ketika aku terlepas dan terbang jauh sungguh sangat jauh
Apakah kakimu rela berlari mengejarku?
Apakah kakimu rela memanjat tebing tinggi ketika aku berada disana?
Categories
Catatanku
Secangkir Kopi dan Sepotong Senja
Cinta dalam diam layaknya secangkir kopi hangat yang kau seduh saat menyambut ufuk atau pun melepas senja.
Di sana, akan kau temukan betapa pahit dan pekat rasa seduhannya.
Semua terasa sulit kita raba, senada dengan cinta dalam diam kita yang begitu tertatih untuk kita jaga dan juga kita tumbuhkan benih harapannya pada tiap letupan.
Namun seperti halnya secangkir kopi hangat, maka meski dalam pahit dan pekat kau terus mencoba merasakan dan mempertahankan cintamu,
Di sana akan kau temukan sepercik rasa manis dan juga aliran hangat yang akan menenangkanmu dan membuatmu tersenyum saat kau menggoreskan penamu untuk menulis tentang seseorang yang kau cintai.
Di sana, akan kau temukan betapa pahit dan pekat rasa seduhannya.
Semua terasa sulit kita raba, senada dengan cinta dalam diam kita yang begitu tertatih untuk kita jaga dan juga kita tumbuhkan benih harapannya pada tiap letupan.
Namun seperti halnya secangkir kopi hangat, maka meski dalam pahit dan pekat kau terus mencoba merasakan dan mempertahankan cintamu,
Di sana akan kau temukan sepercik rasa manis dan juga aliran hangat yang akan menenangkanmu dan membuatmu tersenyum saat kau menggoreskan penamu untuk menulis tentang seseorang yang kau cintai.
Categories
Catatanku
Monday, March 30, 2015
Sedang Tak Merindukan Mentari
Kala mentari pagi mulai menampakkan dirinya
Disambut kicauan burung yang riangnya
Dan tetesan embun di setiap ranting-ranting pohon yang menggelantung
Dan ketika mentari mulai menunjukkan seluruh tubuhnya
Seketika juga gerombolan manusia yang keluar dari gubuknya menyongsong pagi
Suara klakson-klakson yang nyaring
Membuat suasana bumi semakin bising
Gumpalan awan gelappun tak mau kalah
Keluar dari cerobong tempat peraduannya
Semua manusia nampak dengan corak yang berbeda-beda
Hendak mengais rezeki, memenuhi bangku-bangku belajar, atau hanya sekedar meratapi nasib
Ah, penat niat dengan suasana ini
Ingin segera berlalu, seolah sedang tak merindukan mentari
Segera ingin berjumpa dengan pekatnya malam
Walaupun dia tak selalu memberikan pundi-pundi rupiah
Namun setidaknya memberikan pundi-pundi ketenangan
Yang tak bisa diberikan mentari
Hanya rinai hujan yang menghibur dengan rinainya yang merdu
Meninabobokan dan sang bulan menepuk bahu yang penuh lelah ini
Ah, sungguh aku sedang tak merindukan mentari saat ini.
Disambut kicauan burung yang riangnya
Dan tetesan embun di setiap ranting-ranting pohon yang menggelantung
Dan ketika mentari mulai menunjukkan seluruh tubuhnya
Seketika juga gerombolan manusia yang keluar dari gubuknya menyongsong pagi
Suara klakson-klakson yang nyaring
Membuat suasana bumi semakin bising
Gumpalan awan gelappun tak mau kalah
Keluar dari cerobong tempat peraduannya
Semua manusia nampak dengan corak yang berbeda-beda
Hendak mengais rezeki, memenuhi bangku-bangku belajar, atau hanya sekedar meratapi nasib
Ah, penat niat dengan suasana ini
Ingin segera berlalu, seolah sedang tak merindukan mentari
Segera ingin berjumpa dengan pekatnya malam
Walaupun dia tak selalu memberikan pundi-pundi rupiah
Namun setidaknya memberikan pundi-pundi ketenangan
Yang tak bisa diberikan mentari
Hanya rinai hujan yang menghibur dengan rinainya yang merdu
Meninabobokan dan sang bulan menepuk bahu yang penuh lelah ini
Ah, sungguh aku sedang tak merindukan mentari saat ini.
Categories
Catatanku
Wednesday, March 25, 2015
Time is Ours
Taukah kamu momen-momen apa yang paling menyenangkan hingga saat ini ?
Taukah kamu apa aktivitas favoritku ?
Ya, momen-momen itu adalah saat kamu ada dalam momen itu
Ya, aktivitas itu adalah ketika kamu juga ada dalam aktivitas itu.
Bersamamu...
Momen itu adalah
Bercengkrama di heningnya malam
Disaksikan sang rembulan yang tersenyum malu
Menyaksikan kita yang sibuk berdialog dengan gadget yang berisi suara kamu ataupun aku
Ketika semua orang sudah tenggelam dalam dunia mimpi mereka
Kita masih sibuk membahas hal-hal yang dapat dijadikan judul cerita setiap malamnya
Kadang hening sejenak, tanpa kata, dan hanya seutas senyuman
Dan diakhiri saling mengungkapkan rindu dan bertaruh siapa yang rindunya paling besar
Dan aktivitas itu adalah
Ketika kamu ataupun aku berada pada zona "sibuk"
Rela mencuri waktu-waktu sempit hanya untuk bertemu
Hanya untuk menanyakan kabar, bercerita hal-hal apa yang singgah dikepala
Kadang, memanfaatkan angka merah untuk berjumpa
Dengan gaya santaimu, kaos gelap dan jeans sambil membawa beberapa minuman
Ke tempat makan yang jadi favorit kita berdua, atau berwisata kuliner
Hal yang cukup menyenangkan untuk diingat...
Taukah kamu apa aktivitas favoritku ?
Ya, momen-momen itu adalah saat kamu ada dalam momen itu
Ya, aktivitas itu adalah ketika kamu juga ada dalam aktivitas itu.
Bersamamu...
Momen itu adalah
Bercengkrama di heningnya malam
Disaksikan sang rembulan yang tersenyum malu
Menyaksikan kita yang sibuk berdialog dengan gadget yang berisi suara kamu ataupun aku
Ketika semua orang sudah tenggelam dalam dunia mimpi mereka
Kita masih sibuk membahas hal-hal yang dapat dijadikan judul cerita setiap malamnya
Kadang hening sejenak, tanpa kata, dan hanya seutas senyuman
Dan diakhiri saling mengungkapkan rindu dan bertaruh siapa yang rindunya paling besar
Dan aktivitas itu adalah
Ketika kamu ataupun aku berada pada zona "sibuk"
Rela mencuri waktu-waktu sempit hanya untuk bertemu
Hanya untuk menanyakan kabar, bercerita hal-hal apa yang singgah dikepala
Kadang, memanfaatkan angka merah untuk berjumpa
Dengan gaya santaimu, kaos gelap dan jeans sambil membawa beberapa minuman
Ke tempat makan yang jadi favorit kita berdua, atau berwisata kuliner
Hal yang cukup menyenangkan untuk diingat...
Categories
Catatanku
Sunday, March 22, 2015
Pandanglah Aku
Aku yang selalu bersamamu mengisi hari-harimu
Aku yang sebagai tempat kamu menceritakan hal-hal terkonyolmu
Hingga perasaanmu
Kita selalu bersama, tampak tak terpisahkan, kata mereka.
Aku yang tak pernah bosan bersamamu
Aku yang tak pernah kau arahkan pandanganmu juga hatimu
Pandangan seorang wanita memandang seorang pria
Engkau yang teramat dekat namun juga teramat terjal aku raih
Engkau yang tak pernah menyadari arti tatapanku
Pandanglah aku, walau itu hanya semenit
Pandanglah perasaanku yang telah lama mengepul yang semakin menyesakkan dadaku
Dan kau akan mengerti arti dari setiap tatapan dan kehadiranku di sisimu
Aku yang menunggu dirimu berbalik kearahku
Aku yang sebagai tempat kamu menceritakan hal-hal terkonyolmu
Hingga perasaanmu
Kita selalu bersama, tampak tak terpisahkan, kata mereka.
Aku yang tak pernah bosan bersamamu
Aku yang tak pernah kau arahkan pandanganmu juga hatimu
Pandangan seorang wanita memandang seorang pria
Engkau yang teramat dekat namun juga teramat terjal aku raih
Engkau yang tak pernah menyadari arti tatapanku
Pandanglah aku, walau itu hanya semenit
Pandanglah perasaanku yang telah lama mengepul yang semakin menyesakkan dadaku
Dan kau akan mengerti arti dari setiap tatapan dan kehadiranku di sisimu
Aku yang menunggu dirimu berbalik kearahku
Categories
Catatanku
Song of Twilight
Kuberdiri dibalik jingganya langit
Sembari berdendangkan nyanyian hampa
Diiringi oleh melodi angin sepoi-sepoi
Disaksikan oleh hamparan rumput dan ilalang
Kupersembahkan nyanyian hampa ini, sebagai hadiah perpisahanku pada sang surya
Menyongsong pekatnya malam yang sepi tanpa bulan bintang
Sungguh senyap.,
Dengan suara yang hampir parau
Ku bernyanyi dengan sisa harapan yang hampir hilang
Di atas panggung kesunyian
Sembari berdendangkan nyanyian hampa
Diiringi oleh melodi angin sepoi-sepoi
Disaksikan oleh hamparan rumput dan ilalang
Kupersembahkan nyanyian hampa ini, sebagai hadiah perpisahanku pada sang surya
Menyongsong pekatnya malam yang sepi tanpa bulan bintang
Sungguh senyap.,
Dengan suara yang hampir parau
Ku bernyanyi dengan sisa harapan yang hampir hilang
Di atas panggung kesunyian
Categories
Catatanku
Sunday, December 21, 2014
Pelangi yang Tak Kau Sadari
Akulah pelangi yang sedang menanti di sudut jendela kamarmu
Yang di kedua tangannya membawa seikat corak warna
Merah, Kuning, Hijau, Nila, Biru, dan Jingga
Yang masih menantimu membuka jendela
Menyambut kedua tangan itu
Akulah pelangi yang tak kau sadari, yang menantimu
Namun pintu itu masih tertutup
Mungkin ketakutanmu akan hujan masih menyelimuti hatimu
Hujan yang telah membasahi hati kecilmu dengan duka
Hingga hatimu sulit melihat pelangi ini
Kamu takut jika sedikit membukanya
Itu bukanlah benar-benar pelangi
Akulah pelangi yang nyata
Pelangi yang tak kau sadari
Hadir memberikan sejuta warna dalam hari-harimu
Yang di kedua tangannya membawa seikat corak warna
Merah, Kuning, Hijau, Nila, Biru, dan Jingga
Yang masih menantimu membuka jendela
Menyambut kedua tangan itu
Akulah pelangi yang tak kau sadari, yang menantimu
Namun pintu itu masih tertutup
Mungkin ketakutanmu akan hujan masih menyelimuti hatimu
Hujan yang telah membasahi hati kecilmu dengan duka
Hingga hatimu sulit melihat pelangi ini
Kamu takut jika sedikit membukanya
Itu bukanlah benar-benar pelangi
Akulah pelangi yang nyata
Pelangi yang tak kau sadari
Hadir memberikan sejuta warna dalam hari-harimu
Categories
Catatanku
Saturday, December 20, 2014
Daun dan Rantingnya
Akulah daun yang bersandar pada rantingnya
Akulah yang takut terjatuh
Hingga menjadikan sang ranting penopangku
Menjagaku agar tak terjatuh di kerasnya tanah dan kencangnya angin
Tetap membiarkanku bergelantungan disetiap rantai-rantainya
Bukannya aku takut terlepas darinya
Namun takut menghadapi tanah, angin, dan senja
Ketakutan terhadap tanah yang membiarkan manusia menginjakku
Ketakutan terhadap angin yang akan menerbangkanku entah berantah
Dan ketakutan terhadap senja sekalipun di jingga ada maharani.
Biarkanlah aku daun dan rantingnya tetap bersama
Hingga sang ranting tak mampu lagi menopang sang daun
Akulah yang takut terjatuh
Hingga menjadikan sang ranting penopangku
Menjagaku agar tak terjatuh di kerasnya tanah dan kencangnya angin
Tetap membiarkanku bergelantungan disetiap rantai-rantainya
Bukannya aku takut terlepas darinya
Namun takut menghadapi tanah, angin, dan senja
Ketakutan terhadap tanah yang membiarkan manusia menginjakku
Ketakutan terhadap angin yang akan menerbangkanku entah berantah
Dan ketakutan terhadap senja sekalipun di jingga ada maharani.
Biarkanlah aku daun dan rantingnya tetap bersama
Hingga sang ranting tak mampu lagi menopang sang daun
Categories
Catatanku
Saturday, November 29, 2014
Blossom Rain (Hujan Sakura)
Blossom..
Rain..
Dimana aku bersandar pada batangnya yang kian rapuh.,
Hingga bunga pinknya pun berguguran..
Bagaikan hujan.,,
Bukan tetesan air yang menghujaniku
Namun setiap helai pink yang bertaburan
Membawa keharuman bak kasturi
Ah., Sungguh aku tak ingin beranjak dari sini
Jiwa telah nyaman bersandar dengannya
Senyaman dirimu buatku
Pink melambangkan kasih sayang
Kasih sayang yang terus tertumpah buatku
Batang melambangkan sebuah bahu
Bahu tempatku untuk selalu menyandarkan kepala
Nyaman, Teduh, dan Sejuk
Itulah kamu...
Rain..
Dimana aku bersandar pada batangnya yang kian rapuh.,
Hingga bunga pinknya pun berguguran..
Bagaikan hujan.,,
Bukan tetesan air yang menghujaniku
Namun setiap helai pink yang bertaburan
Membawa keharuman bak kasturi
Ah., Sungguh aku tak ingin beranjak dari sini
Jiwa telah nyaman bersandar dengannya
Senyaman dirimu buatku
Pink melambangkan kasih sayang
Kasih sayang yang terus tertumpah buatku
Batang melambangkan sebuah bahu
Bahu tempatku untuk selalu menyandarkan kepala
Nyaman, Teduh, dan Sejuk
Itulah kamu...
Categories
Catatanku
Sunday, September 14, 2014
Hujan, Rindu, dan Kamu
Hujan, Rindu, dan Kamu
Tiga kata yang saling berkaitan erat
Tiga kata yang sedang aku urai dalam benakku
Sehingga ketiganya mampu mewakili semilir rasa yang hadir
Yah, apa yang hendak aku utarakan dalam sebuah goresan
Hujan, dia memberikan segumpal kesejukan sekaligus dingin yang menusuk
Namun hujan memberikan nuansa keindahan
Dan dibalik itu terselip pelangi nan indah
Kamu adalah hujan untukku
Kamu memberikan segumpal kebahagiaan, namun terkadang membawa secuil asa
Kamu memberikan segumpal kebahagiaan, namun terkadang membawa secuil asa
Secuil asa itu adalah rindu
Namun kamu adalah keindahanku
Yang akan membawa sejuta pelangi dihadapanku
Namun kamu adalah keindahanku
Yang akan membawa sejuta pelangi dihadapanku
Rindu, yang kuanggap sebagai asa
Aku bagaikan berdiri di bawah naungan hujan
Merindu sosokmu,merindu setiap detil yang ada pada dirimu
Aku bagaikan berdiri di bawah naungan hujan
Merindu sosokmu,merindu setiap detil yang ada pada dirimu
Merindu caramu berjalan
Merindu caramu memandang
Merindu caramu memandang
Merindu caramu tersenyum
Yah, aku sedang merindu..
Kamu, yang menjadi tujuan atas rindu
Kamu, yang seperti hujan bagiku
Kamu, yang menjadi tujuan atas rindu
Kamu, yang seperti hujan bagiku
Disana, apakah sosokku masih hadir dalam hari-harimu
Saat jarak hadir di tengah kita
Saat, aku dan kamu berada di 2 tempat yang berbeda
Kamu yang membuatku masih merindu
Rindukah kamu akan sosokku.??
Kamu yang membuatku masih merindu
Rindukah kamu akan sosokku.??
Categories
Catatanku
Saturday, September 6, 2014
Hijau Rumput di Langit Biru
"Hijau Rumput Dilangit Biru"
Cukuplah menyiratkan segenggam kisah kita
Cukuplah mewakili perjalanan aku dan kamu sehingga menjadi kita
Dibalik sebaris kata itu, tersimpan banyak rasa yang telah terlewati
Dan hingga dalam perjalanan ini pun kisah itu tetap terus berlanjut
Kapan titiknya...
Hijau adalah warna yang menjadi idolamu
Biru adalah warna yang aku suka
Hijau adalah kamu
Dan Biru adalah aku
Dan Rumput dan langit itu??
Entahlah., Langit memberikan sejuta keteduhan
Merangkul dengan lembut dan hangat
Kuingin menjadi Langit bagimu
Agar hijau rumput itu tetap kuat dan hijau
Seperti langit yang akan terus menjaga dengan tak bertepi
Dan kau hijau rumput
Tetaplah memberi keasrian di sekelilingmu yang tandus
Walau kadang terinjak, kau tetap kuat dan menyebarkan manfaatmu
Seperti janji kita untuk tetap melangkah ke arah tujuan yang sama
Yang terikrarkan dengan sepasang gelang yang menjadi pengingat
Bahwa kita satu..
Cukuplah menyiratkan segenggam kisah kita
Cukuplah mewakili perjalanan aku dan kamu sehingga menjadi kita
Dibalik sebaris kata itu, tersimpan banyak rasa yang telah terlewati
Dan hingga dalam perjalanan ini pun kisah itu tetap terus berlanjut
Kapan titiknya...
Hijau adalah warna yang menjadi idolamu
Biru adalah warna yang aku suka
Hijau adalah kamu
Dan Biru adalah aku
Dan Rumput dan langit itu??
Entahlah., Langit memberikan sejuta keteduhan
Merangkul dengan lembut dan hangat
Kuingin menjadi Langit bagimu
Agar hijau rumput itu tetap kuat dan hijau
Seperti langit yang akan terus menjaga dengan tak bertepi
Dan kau hijau rumput
Tetaplah memberi keasrian di sekelilingmu yang tandus
Walau kadang terinjak, kau tetap kuat dan menyebarkan manfaatmu
Seperti janji kita untuk tetap melangkah ke arah tujuan yang sama
Yang terikrarkan dengan sepasang gelang yang menjadi pengingat
Bahwa kita satu..
Categories
Catatanku
Sunday, August 31, 2014
Senandung Secangkir Kopi
Kurebahkan badan penuh penat di kursi kerajaanku
Bertemankan heningnya lampu yang ramang-ramang
Serta senandung secangkir kopi yang gelap gulita
Kuteguk tetes demi tetes pekatnya minuman nan gelap itu
Diiringi buaian malam yang hendak menerawang dalam-dalam
Dan cicak yang bersorak ramai nan riuh
Setiap tegukan melukiskan laraku kala itu
Kala aku sulit berpijak di terjalnya kerikil tajam
Kala diriku terlunta akan cemohan para pengais perhatian
Kala diriku terjun dalam rangkulan yang memakan jiwaku perlahan
Berusaha merangkai nada cemohan itu sebagai rangkaian irama yang bernada lembut
Seperti seteguk kopi yang kuubah menjadi susu yang manis hingga tak tersisa
Namun, raga tetaplah sigap dengan senyum yang merekah ramah
Melepaskan duri yang berkecamuk dalam dada
Untuk menatap mentari cerah yang hendak merangkul lembut
Bertemankan heningnya lampu yang ramang-ramang
Serta senandung secangkir kopi yang gelap gulita
Kuteguk tetes demi tetes pekatnya minuman nan gelap itu
Diiringi buaian malam yang hendak menerawang dalam-dalam
Dan cicak yang bersorak ramai nan riuh
Setiap tegukan melukiskan laraku kala itu
Kala aku sulit berpijak di terjalnya kerikil tajam
Kala diriku terlunta akan cemohan para pengais perhatian
Kala diriku terjun dalam rangkulan yang memakan jiwaku perlahan
Berusaha merangkai nada cemohan itu sebagai rangkaian irama yang bernada lembut
Seperti seteguk kopi yang kuubah menjadi susu yang manis hingga tak tersisa
Namun, raga tetaplah sigap dengan senyum yang merekah ramah
Melepaskan duri yang berkecamuk dalam dada
Untuk menatap mentari cerah yang hendak merangkul lembut
Categories
Catatanku
Saturday, August 30, 2014
Jika Kelak
Aku dan kamu telah menjadi kita, Ku ingin senantiasa menghabiskan waktu bersamamu
Saling bergurau dengan senyum yang merekah bahagia...
Aku dan kamu telah bersama dalam rumah harapan kita,
Ku ingin rumah itu penuh dengan hawa kebahagiaan yang terpancar dari luar rumah indah kita...
Aku dan kamu telah menjadi imam dan makmum, Ku ingin kau senantiasa berada di belakangmu
Mengikuti setiap alunan langkahmu dalam sholat..
Aku dan kamu telah telah menjadi orang tua,
Ku ingin kita menjadi partner terbaik buat anak-anak kita..
Aku dan kamu mulai rentah termakan oleh kejamnya usia,
Ku ingin kita tetap saling menopang satu sama lain,
Mengisi kerentanan usia kita dengan penuh senyuman..
Categories
Catatanku
Thursday, August 28, 2014
Menyayangimu Itu Tidak Salah
Sedikit memposting hasil karya Bos untuk saya
Thank you Bos.. ^_^
Aku mendampingimu ketika flu membuat hidungmu merah
Aku juga akan mendampingimu ketika sehat akan membuatmu kembali berulah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau sedih dan penuh amarah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau bahagia dengan senyum yang merekah
Aku mendampingimu saat kau sibuk dengan tugas kuliah
Aku juga mendampingimu saat kau diwisuda dengan pikiran penuh falsafah
Aku akan mendampingimu ketika lamaran kerjamu ditolak hingga lagi-lagi kau resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kau stres dengan pekerjaanmu terasa susah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau merasa tak berguna dan kalah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau menang hingga sombongmu parah
Aku akan mendampingimu saat kita menabung untuk masa depan dengan susah payah
Aku juga akan mendampingimu saat kita di pelaminan mengikat janji untuk menikah
Aku akan mendampingimu ketika sembilan bulan kita dipenuhi resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kita menjadi bunda dan ayah
Aku akan mendampingimu hingga raga kita rentah dan lelah
Aku juga mendampingimu hingga nafasku berakhir sudah
Karena sampai aku kembali menjadi tanah
Menyayangimu itu tak pernah salah
Thank you Bos.. ^_^
Aku mendampingimu ketika flu membuat hidungmu merah
Aku juga akan mendampingimu ketika sehat akan membuatmu kembali berulah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau sedih dan penuh amarah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau bahagia dengan senyum yang merekah
Aku mendampingimu saat kau sibuk dengan tugas kuliah
Aku juga mendampingimu saat kau diwisuda dengan pikiran penuh falsafah
Aku akan mendampingimu ketika lamaran kerjamu ditolak hingga lagi-lagi kau resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kau stres dengan pekerjaanmu terasa susah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau merasa tak berguna dan kalah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau menang hingga sombongmu parah
Aku akan mendampingimu saat kita menabung untuk masa depan dengan susah payah
Aku juga akan mendampingimu saat kita di pelaminan mengikat janji untuk menikah
Aku akan mendampingimu ketika sembilan bulan kita dipenuhi resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kita menjadi bunda dan ayah
Aku akan mendampingimu hingga raga kita rentah dan lelah
Aku juga mendampingimu hingga nafasku berakhir sudah
Karena sampai aku kembali menjadi tanah
Menyayangimu itu tak pernah salah
Categories
Catatanku
Sunday, August 17, 2014
Dream of life
Di tengah malam yang makin hening ini
Sejenak menetrasikan fikiran yang kian jenuh
Ku lirik web yang berlogo B
Tempatku menuangkan segala yang pernah singgah dikepalaku
Dan malam yang semakin lirih ini
Sejenak imajinasiku membentuk
Sebuah tempat yang benar-benar menjadi tempat hidupku kelak
Seperti apa, bagaimana, dan kapan, tergores jelas dibenakku
Inilah iras-iras tempat yang kuimpikan hadir kelak..
Sebuah tempat yang tentram
Jauh dari rutinitas yang terjadi seperti di dunia kota
Dengan orang-orang yang senang berbagi senyuman yang tulus
Tak terlalu padat, dan tak terlalu hening juga
Dimana disana terdapat sungai yang mengalir jernih
Pepohonan yang rindang nan sejuk
Terbentang bukit-bukit indah
Dimana aku bisa bercocok tanam
Berbagai sayuran, dan buah-buahan
Dimana aku bisa memelihara ternak-ternak
Yang semuanya bisa aku manfaatkan dan kubagi
Yah, kulakukan pada saat matahari terbangun
Hingga matahari mulai mengantuk
Bertempat tinggalkan rumah yang sederhana
Dengan desain klasik seperti rumah tempo dulu
Yang beberapa bagiannya terdiri dari kayu-kayu nan kuat
Dipenuhi tanaman-naman hias
Dan ketika sang rembulan hendak menyapa
Di sebuah surau, aku melakukan aktivitas kerohanian bersama masyarakat
Dan bercengkrama dengan heningnya malam, melakukan aktivitas paling kusukai
Membaca, menulis, dan hal yang membuat hatiku berdegup riang..
Kan kuhabiskan waktuku dengan penuh damai disana dengan senyuman terindah
Kapan yea?
Categories
Catatanku
Subscribe to:
Posts (Atom)
Showing posts with label Catatanku. Show all posts
Showing posts with label Catatanku. Show all posts
Sunday, March 19, 2017
Catatan Luka Hati
Ada masa aku dibutakan olehmu. Nalar dan logikaku tak berjalan karena cintaku. Aku tak lagi menjadi diriku lagi ketika denganmu. Aku berusaha menutup mata dan telingaku akan segala sesuatu tentangmu yang menyesakkan dada. Entah karena cinta atau obsesiku terhadap kamu. Sekalipun kamu berulang kali menancapkan belati ke dadaku. Tak kulihatpun itu sebagai belati. Aku selalu percaya bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku hanya cara kita yang berbeda. Namun semakin aku melaluinya, segala hal yang meyesakkan dada tak dapat kutepis lagi. Aku kembali bertanya akan cintamu. Kuputuskan bahwa diriku akan hidup tanpamu. Mencoba menghapus sosokmu yang membelenggu hati dan fikiranku. Tapi sepertinya menghapus tentangmu tak akan pernah bisa. Sehingga aku memilih melanjutkan hidup dengan kenangan pahit yang kamu berikan. Menyesakkan memang, namun aku harus terbiasa tanpamu. Berdamai dengan sakit yang kamu berikan. Hingga terhapus oleh waktu dan penggantimu kelak.
Love is Patience
Cinta adalah kesabaran. Cinta adalah perjuangan untuk melawan ketidaksabaran. Cinta adalah proses menuju kesabaran. Bukan cinta jika tak sabar.
Dan aku memilih sabar karena cinta. Bersabar dengan waktu, bersabar dengan jarak, bersabar dengan keadaan, bersabar dengan proses, dan bersabar dengan dirimu.
Aku memilih sabar, karena kau juga memberikanku sebuah kesabaran. Bersabar dengan jarak, waktu, proses, dan juga kekuranganku.
Kita bersabar karena cinta.
Karena cinta adalah sabar
Saturday, November 28, 2015
Waiting
Hey Kau, yang membuat aku menunggu selama ini di tengah tetesan hujan
Sadarkah, dirimu bahwa ada aku yang sedang berdiri disini
Entah, sudah berapa lama aku berdiri disini
Kau yang terlalu tenggelam dengan hangatnya senja
Hingga tak kau sadari aku berada dalam dinginnya hujan
Janganlah sampai aku lelah menunggu ditempat ini..
Ah., bukan,, aku tak pernah lelah menunggu dan berdiri di tempat ini
Aku hanya takut jika bulir-bulir hujan menjadikan hatiku dingin dan beku terhadapmu
Sadarkah, dirimu bahwa ada aku yang sedang berdiri disini
Entah, sudah berapa lama aku berdiri disini
Kau yang terlalu tenggelam dengan hangatnya senja
Hingga tak kau sadari aku berada dalam dinginnya hujan
Janganlah sampai aku lelah menunggu ditempat ini..
Ah., bukan,, aku tak pernah lelah menunggu dan berdiri di tempat ini
Aku hanya takut jika bulir-bulir hujan menjadikan hatiku dingin dan beku terhadapmu
Sehingga hatiku akan menjadi mati rasa padamu
Dan ketika kau datang kelak membawa payung teduh itu
Hatiku mati rasa untuk menerimanya
Dan ketika kau datang kelak membawa payung teduh itu
Hatiku mati rasa untuk menerimanya

Friday, November 27, 2015
Dalam Cangkir
Rasanya ingin menggunting jarak
makin tunas rasanya, rasa yang ada
rindu yang terjalin mengerat dan berat
memindahkan tubuh pada ruang sunyi lagi
di beranda berpetak
meminjam nada-nada dan suara-suara yang disuka
kemudian mengalun dan bersenandung sendiri
selagi senja menghangat
dirimu teraduk dalam cangkir senja yang membumi
secangkir kopi dan imajinasi
kusesap dalam-dalam
dan rindu bertebaran memenuhi warna pelangi di kejauhan
makin tunas rasanya, rasa yang ada
rindu yang terjalin mengerat dan berat
memindahkan tubuh pada ruang sunyi lagi
di beranda berpetak
meminjam nada-nada dan suara-suara yang disuka
kemudian mengalun dan bersenandung sendiri
selagi senja menghangat
dirimu teraduk dalam cangkir senja yang membumi
secangkir kopi dan imajinasi
kusesap dalam-dalam
dan rindu bertebaran memenuhi warna pelangi di kejauhan
Saturday, September 26, 2015
Jarak
Ada rindu yang tertitip, ada cinta yang terjaga
Ada curiga yang terpendam, ada hati yang bertahan
Ada setia yang teruji, ada cemburu yang terlintas
Nuansa yang dihadirkan oleh sebuah jarak
Jarak aku dan kamu
Jarak tak berarti jurang pemisah sebuah hubungan
Yang akan menjadikan kita menjadi aku dan kau
Tapi sebuah tantangan untuk kita lewati
Kadang, kita butuh jarak untuk saling melihat
Melihat seberapa sungguh kita dalam cinta
Seberapa kuat hati kita tuk bertahan
Hingga pada saatnya tiba
Akan hadir cinta yang kokoh
Yang selalu tetap rindang untuk ditempati
Ada curiga yang terpendam, ada hati yang bertahan
Ada setia yang teruji, ada cemburu yang terlintas
Nuansa yang dihadirkan oleh sebuah jarak
Jarak aku dan kamu
Jarak tak berarti jurang pemisah sebuah hubungan
Yang akan menjadikan kita menjadi aku dan kau
Tapi sebuah tantangan untuk kita lewati
Kadang, kita butuh jarak untuk saling melihat
Melihat seberapa sungguh kita dalam cinta
Seberapa kuat hati kita tuk bertahan
Hingga pada saatnya tiba
Akan hadir cinta yang kokoh
Yang selalu tetap rindang untuk ditempati
Sunday, May 24, 2015
Perumpamaan Layang-layang Itu
Perumpamaan layang-layang itu
Seperti itulah kita berdua
Kamu nahkodanya, sedang aku si layang-layang itu
Dan benang adalah cinta kita
Kemampuan gerakan tanganmu memainkan untaian benang yang menghubungkanku
Irama angin yang harus kau bersahabat dengannya
Kamu bisa menerbangkanku tinggi atau bisa membuatku lepas dan terbang terbawa angin
Ketika aku terlepas dan terbang jauh sungguh sangat jauh
Apakah kakimu rela berlari mengejarku?
Apakah kakimu rela memanjat tebing tinggi ketika aku berada disana?
Seperti itulah kita berdua
Kamu nahkodanya, sedang aku si layang-layang itu
Dan benang adalah cinta kita
Kemampuan gerakan tanganmu memainkan untaian benang yang menghubungkanku
Irama angin yang harus kau bersahabat dengannya
Kamu bisa menerbangkanku tinggi atau bisa membuatku lepas dan terbang terbawa angin
Ketika aku terlepas dan terbang jauh sungguh sangat jauh
Apakah kakimu rela berlari mengejarku?
Apakah kakimu rela memanjat tebing tinggi ketika aku berada disana?
Secangkir Kopi dan Sepotong Senja
Cinta dalam diam layaknya secangkir kopi hangat yang kau seduh saat menyambut ufuk atau pun melepas senja.
Di sana, akan kau temukan betapa pahit dan pekat rasa seduhannya.
Semua terasa sulit kita raba, senada dengan cinta dalam diam kita yang begitu tertatih untuk kita jaga dan juga kita tumbuhkan benih harapannya pada tiap letupan.
Namun seperti halnya secangkir kopi hangat, maka meski dalam pahit dan pekat kau terus mencoba merasakan dan mempertahankan cintamu,
Di sana akan kau temukan sepercik rasa manis dan juga aliran hangat yang akan menenangkanmu dan membuatmu tersenyum saat kau menggoreskan penamu untuk menulis tentang seseorang yang kau cintai.
Di sana, akan kau temukan betapa pahit dan pekat rasa seduhannya.
Semua terasa sulit kita raba, senada dengan cinta dalam diam kita yang begitu tertatih untuk kita jaga dan juga kita tumbuhkan benih harapannya pada tiap letupan.
Namun seperti halnya secangkir kopi hangat, maka meski dalam pahit dan pekat kau terus mencoba merasakan dan mempertahankan cintamu,
Di sana akan kau temukan sepercik rasa manis dan juga aliran hangat yang akan menenangkanmu dan membuatmu tersenyum saat kau menggoreskan penamu untuk menulis tentang seseorang yang kau cintai.
Monday, March 30, 2015
Sedang Tak Merindukan Mentari
Kala mentari pagi mulai menampakkan dirinya
Disambut kicauan burung yang riangnya
Dan tetesan embun di setiap ranting-ranting pohon yang menggelantung
Dan ketika mentari mulai menunjukkan seluruh tubuhnya
Seketika juga gerombolan manusia yang keluar dari gubuknya menyongsong pagi
Suara klakson-klakson yang nyaring
Membuat suasana bumi semakin bising
Gumpalan awan gelappun tak mau kalah
Keluar dari cerobong tempat peraduannya
Semua manusia nampak dengan corak yang berbeda-beda
Hendak mengais rezeki, memenuhi bangku-bangku belajar, atau hanya sekedar meratapi nasib
Ah, penat niat dengan suasana ini
Ingin segera berlalu, seolah sedang tak merindukan mentari
Segera ingin berjumpa dengan pekatnya malam
Walaupun dia tak selalu memberikan pundi-pundi rupiah
Namun setidaknya memberikan pundi-pundi ketenangan
Yang tak bisa diberikan mentari
Hanya rinai hujan yang menghibur dengan rinainya yang merdu
Meninabobokan dan sang bulan menepuk bahu yang penuh lelah ini
Ah, sungguh aku sedang tak merindukan mentari saat ini.
Disambut kicauan burung yang riangnya
Dan tetesan embun di setiap ranting-ranting pohon yang menggelantung
Dan ketika mentari mulai menunjukkan seluruh tubuhnya
Seketika juga gerombolan manusia yang keluar dari gubuknya menyongsong pagi
Suara klakson-klakson yang nyaring
Membuat suasana bumi semakin bising
Gumpalan awan gelappun tak mau kalah
Keluar dari cerobong tempat peraduannya
Semua manusia nampak dengan corak yang berbeda-beda
Hendak mengais rezeki, memenuhi bangku-bangku belajar, atau hanya sekedar meratapi nasib
Ah, penat niat dengan suasana ini
Ingin segera berlalu, seolah sedang tak merindukan mentari
Segera ingin berjumpa dengan pekatnya malam
Walaupun dia tak selalu memberikan pundi-pundi rupiah
Namun setidaknya memberikan pundi-pundi ketenangan
Yang tak bisa diberikan mentari
Hanya rinai hujan yang menghibur dengan rinainya yang merdu
Meninabobokan dan sang bulan menepuk bahu yang penuh lelah ini
Ah, sungguh aku sedang tak merindukan mentari saat ini.
Wednesday, March 25, 2015
Time is Ours
Taukah kamu momen-momen apa yang paling menyenangkan hingga saat ini ?
Taukah kamu apa aktivitas favoritku ?
Ya, momen-momen itu adalah saat kamu ada dalam momen itu
Ya, aktivitas itu adalah ketika kamu juga ada dalam aktivitas itu.
Bersamamu...
Momen itu adalah
Bercengkrama di heningnya malam
Disaksikan sang rembulan yang tersenyum malu
Menyaksikan kita yang sibuk berdialog dengan gadget yang berisi suara kamu ataupun aku
Ketika semua orang sudah tenggelam dalam dunia mimpi mereka
Kita masih sibuk membahas hal-hal yang dapat dijadikan judul cerita setiap malamnya
Kadang hening sejenak, tanpa kata, dan hanya seutas senyuman
Dan diakhiri saling mengungkapkan rindu dan bertaruh siapa yang rindunya paling besar
Dan aktivitas itu adalah
Ketika kamu ataupun aku berada pada zona "sibuk"
Rela mencuri waktu-waktu sempit hanya untuk bertemu
Hanya untuk menanyakan kabar, bercerita hal-hal apa yang singgah dikepala
Kadang, memanfaatkan angka merah untuk berjumpa
Dengan gaya santaimu, kaos gelap dan jeans sambil membawa beberapa minuman
Ke tempat makan yang jadi favorit kita berdua, atau berwisata kuliner
Hal yang cukup menyenangkan untuk diingat...
Taukah kamu apa aktivitas favoritku ?
Ya, momen-momen itu adalah saat kamu ada dalam momen itu
Ya, aktivitas itu adalah ketika kamu juga ada dalam aktivitas itu.
Bersamamu...
Momen itu adalah
Bercengkrama di heningnya malam
Disaksikan sang rembulan yang tersenyum malu
Menyaksikan kita yang sibuk berdialog dengan gadget yang berisi suara kamu ataupun aku
Ketika semua orang sudah tenggelam dalam dunia mimpi mereka
Kita masih sibuk membahas hal-hal yang dapat dijadikan judul cerita setiap malamnya
Kadang hening sejenak, tanpa kata, dan hanya seutas senyuman
Dan diakhiri saling mengungkapkan rindu dan bertaruh siapa yang rindunya paling besar
Dan aktivitas itu adalah
Ketika kamu ataupun aku berada pada zona "sibuk"
Rela mencuri waktu-waktu sempit hanya untuk bertemu
Hanya untuk menanyakan kabar, bercerita hal-hal apa yang singgah dikepala
Kadang, memanfaatkan angka merah untuk berjumpa
Dengan gaya santaimu, kaos gelap dan jeans sambil membawa beberapa minuman
Ke tempat makan yang jadi favorit kita berdua, atau berwisata kuliner
Hal yang cukup menyenangkan untuk diingat...
Sunday, March 22, 2015
Pandanglah Aku
Aku yang selalu bersamamu mengisi hari-harimu
Aku yang sebagai tempat kamu menceritakan hal-hal terkonyolmu
Hingga perasaanmu
Kita selalu bersama, tampak tak terpisahkan, kata mereka.
Aku yang tak pernah bosan bersamamu
Aku yang tak pernah kau arahkan pandanganmu juga hatimu
Pandangan seorang wanita memandang seorang pria
Engkau yang teramat dekat namun juga teramat terjal aku raih
Engkau yang tak pernah menyadari arti tatapanku
Pandanglah aku, walau itu hanya semenit
Pandanglah perasaanku yang telah lama mengepul yang semakin menyesakkan dadaku
Dan kau akan mengerti arti dari setiap tatapan dan kehadiranku di sisimu
Aku yang menunggu dirimu berbalik kearahku
Aku yang sebagai tempat kamu menceritakan hal-hal terkonyolmu
Hingga perasaanmu
Kita selalu bersama, tampak tak terpisahkan, kata mereka.
Aku yang tak pernah bosan bersamamu
Aku yang tak pernah kau arahkan pandanganmu juga hatimu
Pandangan seorang wanita memandang seorang pria
Engkau yang teramat dekat namun juga teramat terjal aku raih
Engkau yang tak pernah menyadari arti tatapanku
Pandanglah aku, walau itu hanya semenit
Pandanglah perasaanku yang telah lama mengepul yang semakin menyesakkan dadaku
Dan kau akan mengerti arti dari setiap tatapan dan kehadiranku di sisimu
Aku yang menunggu dirimu berbalik kearahku
Song of Twilight
Kuberdiri dibalik jingganya langit
Sembari berdendangkan nyanyian hampa
Diiringi oleh melodi angin sepoi-sepoi
Disaksikan oleh hamparan rumput dan ilalang
Kupersembahkan nyanyian hampa ini, sebagai hadiah perpisahanku pada sang surya
Menyongsong pekatnya malam yang sepi tanpa bulan bintang
Sungguh senyap.,
Dengan suara yang hampir parau
Ku bernyanyi dengan sisa harapan yang hampir hilang
Di atas panggung kesunyian
Sembari berdendangkan nyanyian hampa
Diiringi oleh melodi angin sepoi-sepoi
Disaksikan oleh hamparan rumput dan ilalang
Kupersembahkan nyanyian hampa ini, sebagai hadiah perpisahanku pada sang surya
Menyongsong pekatnya malam yang sepi tanpa bulan bintang
Sungguh senyap.,
Dengan suara yang hampir parau
Ku bernyanyi dengan sisa harapan yang hampir hilang
Di atas panggung kesunyian
Sunday, December 21, 2014
Pelangi yang Tak Kau Sadari
Akulah pelangi yang sedang menanti di sudut jendela kamarmu
Yang di kedua tangannya membawa seikat corak warna
Merah, Kuning, Hijau, Nila, Biru, dan Jingga
Yang masih menantimu membuka jendela
Menyambut kedua tangan itu
Akulah pelangi yang tak kau sadari, yang menantimu
Namun pintu itu masih tertutup
Mungkin ketakutanmu akan hujan masih menyelimuti hatimu
Hujan yang telah membasahi hati kecilmu dengan duka
Hingga hatimu sulit melihat pelangi ini
Kamu takut jika sedikit membukanya
Itu bukanlah benar-benar pelangi
Akulah pelangi yang nyata
Pelangi yang tak kau sadari
Hadir memberikan sejuta warna dalam hari-harimu
Yang di kedua tangannya membawa seikat corak warna
Merah, Kuning, Hijau, Nila, Biru, dan Jingga
Yang masih menantimu membuka jendela
Menyambut kedua tangan itu
Akulah pelangi yang tak kau sadari, yang menantimu
Namun pintu itu masih tertutup
Mungkin ketakutanmu akan hujan masih menyelimuti hatimu
Hujan yang telah membasahi hati kecilmu dengan duka
Hingga hatimu sulit melihat pelangi ini
Kamu takut jika sedikit membukanya
Itu bukanlah benar-benar pelangi
Akulah pelangi yang nyata
Pelangi yang tak kau sadari
Hadir memberikan sejuta warna dalam hari-harimu
Saturday, December 20, 2014
Daun dan Rantingnya
Akulah daun yang bersandar pada rantingnya
Akulah yang takut terjatuh
Hingga menjadikan sang ranting penopangku
Menjagaku agar tak terjatuh di kerasnya tanah dan kencangnya angin
Tetap membiarkanku bergelantungan disetiap rantai-rantainya
Bukannya aku takut terlepas darinya
Namun takut menghadapi tanah, angin, dan senja
Ketakutan terhadap tanah yang membiarkan manusia menginjakku
Ketakutan terhadap angin yang akan menerbangkanku entah berantah
Dan ketakutan terhadap senja sekalipun di jingga ada maharani.
Biarkanlah aku daun dan rantingnya tetap bersama
Hingga sang ranting tak mampu lagi menopang sang daun
Akulah yang takut terjatuh
Hingga menjadikan sang ranting penopangku
Menjagaku agar tak terjatuh di kerasnya tanah dan kencangnya angin
Tetap membiarkanku bergelantungan disetiap rantai-rantainya
Bukannya aku takut terlepas darinya
Namun takut menghadapi tanah, angin, dan senja
Ketakutan terhadap tanah yang membiarkan manusia menginjakku
Ketakutan terhadap angin yang akan menerbangkanku entah berantah
Dan ketakutan terhadap senja sekalipun di jingga ada maharani.
Biarkanlah aku daun dan rantingnya tetap bersama
Hingga sang ranting tak mampu lagi menopang sang daun
Saturday, November 29, 2014
Blossom Rain (Hujan Sakura)
Blossom..
Rain..
Dimana aku bersandar pada batangnya yang kian rapuh.,
Hingga bunga pinknya pun berguguran..
Bagaikan hujan.,,
Bukan tetesan air yang menghujaniku
Namun setiap helai pink yang bertaburan
Membawa keharuman bak kasturi
Ah., Sungguh aku tak ingin beranjak dari sini
Jiwa telah nyaman bersandar dengannya
Senyaman dirimu buatku
Pink melambangkan kasih sayang
Kasih sayang yang terus tertumpah buatku
Batang melambangkan sebuah bahu
Bahu tempatku untuk selalu menyandarkan kepala
Nyaman, Teduh, dan Sejuk
Itulah kamu...
Rain..
Dimana aku bersandar pada batangnya yang kian rapuh.,
Hingga bunga pinknya pun berguguran..
Bagaikan hujan.,,
Bukan tetesan air yang menghujaniku
Namun setiap helai pink yang bertaburan
Membawa keharuman bak kasturi
Ah., Sungguh aku tak ingin beranjak dari sini
Jiwa telah nyaman bersandar dengannya
Senyaman dirimu buatku
Pink melambangkan kasih sayang
Kasih sayang yang terus tertumpah buatku
Batang melambangkan sebuah bahu
Bahu tempatku untuk selalu menyandarkan kepala
Nyaman, Teduh, dan Sejuk
Itulah kamu...
Sunday, September 14, 2014
Hujan, Rindu, dan Kamu
Hujan, Rindu, dan Kamu
Tiga kata yang saling berkaitan erat
Tiga kata yang sedang aku urai dalam benakku
Sehingga ketiganya mampu mewakili semilir rasa yang hadir
Yah, apa yang hendak aku utarakan dalam sebuah goresan
Hujan, dia memberikan segumpal kesejukan sekaligus dingin yang menusuk
Namun hujan memberikan nuansa keindahan
Dan dibalik itu terselip pelangi nan indah
Kamu adalah hujan untukku
Kamu memberikan segumpal kebahagiaan, namun terkadang membawa secuil asa
Kamu memberikan segumpal kebahagiaan, namun terkadang membawa secuil asa
Secuil asa itu adalah rindu
Namun kamu adalah keindahanku
Yang akan membawa sejuta pelangi dihadapanku
Namun kamu adalah keindahanku
Yang akan membawa sejuta pelangi dihadapanku
Rindu, yang kuanggap sebagai asa
Aku bagaikan berdiri di bawah naungan hujan
Merindu sosokmu,merindu setiap detil yang ada pada dirimu
Aku bagaikan berdiri di bawah naungan hujan
Merindu sosokmu,merindu setiap detil yang ada pada dirimu
Merindu caramu berjalan
Merindu caramu memandang
Merindu caramu memandang
Merindu caramu tersenyum
Yah, aku sedang merindu..
Kamu, yang menjadi tujuan atas rindu
Kamu, yang seperti hujan bagiku
Kamu, yang menjadi tujuan atas rindu
Kamu, yang seperti hujan bagiku
Disana, apakah sosokku masih hadir dalam hari-harimu
Saat jarak hadir di tengah kita
Saat, aku dan kamu berada di 2 tempat yang berbeda
Kamu yang membuatku masih merindu
Rindukah kamu akan sosokku.??
Kamu yang membuatku masih merindu
Rindukah kamu akan sosokku.??
Saturday, September 6, 2014
Hijau Rumput di Langit Biru
"Hijau Rumput Dilangit Biru"
Cukuplah menyiratkan segenggam kisah kita
Cukuplah mewakili perjalanan aku dan kamu sehingga menjadi kita
Dibalik sebaris kata itu, tersimpan banyak rasa yang telah terlewati
Dan hingga dalam perjalanan ini pun kisah itu tetap terus berlanjut
Kapan titiknya...
Hijau adalah warna yang menjadi idolamu
Biru adalah warna yang aku suka
Hijau adalah kamu
Dan Biru adalah aku
Dan Rumput dan langit itu??
Entahlah., Langit memberikan sejuta keteduhan
Merangkul dengan lembut dan hangat
Kuingin menjadi Langit bagimu
Agar hijau rumput itu tetap kuat dan hijau
Seperti langit yang akan terus menjaga dengan tak bertepi
Dan kau hijau rumput
Tetaplah memberi keasrian di sekelilingmu yang tandus
Walau kadang terinjak, kau tetap kuat dan menyebarkan manfaatmu
Seperti janji kita untuk tetap melangkah ke arah tujuan yang sama
Yang terikrarkan dengan sepasang gelang yang menjadi pengingat
Bahwa kita satu..
Cukuplah menyiratkan segenggam kisah kita
Cukuplah mewakili perjalanan aku dan kamu sehingga menjadi kita
Dibalik sebaris kata itu, tersimpan banyak rasa yang telah terlewati
Dan hingga dalam perjalanan ini pun kisah itu tetap terus berlanjut
Kapan titiknya...
Hijau adalah warna yang menjadi idolamu
Biru adalah warna yang aku suka
Hijau adalah kamu
Dan Biru adalah aku
Dan Rumput dan langit itu??
Entahlah., Langit memberikan sejuta keteduhan
Merangkul dengan lembut dan hangat
Kuingin menjadi Langit bagimu
Agar hijau rumput itu tetap kuat dan hijau
Seperti langit yang akan terus menjaga dengan tak bertepi
Dan kau hijau rumput
Tetaplah memberi keasrian di sekelilingmu yang tandus
Walau kadang terinjak, kau tetap kuat dan menyebarkan manfaatmu
Seperti janji kita untuk tetap melangkah ke arah tujuan yang sama
Yang terikrarkan dengan sepasang gelang yang menjadi pengingat
Bahwa kita satu..
Sunday, August 31, 2014
Senandung Secangkir Kopi
Kurebahkan badan penuh penat di kursi kerajaanku
Bertemankan heningnya lampu yang ramang-ramang
Serta senandung secangkir kopi yang gelap gulita
Kuteguk tetes demi tetes pekatnya minuman nan gelap itu
Diiringi buaian malam yang hendak menerawang dalam-dalam
Dan cicak yang bersorak ramai nan riuh
Setiap tegukan melukiskan laraku kala itu
Kala aku sulit berpijak di terjalnya kerikil tajam
Kala diriku terlunta akan cemohan para pengais perhatian
Kala diriku terjun dalam rangkulan yang memakan jiwaku perlahan
Berusaha merangkai nada cemohan itu sebagai rangkaian irama yang bernada lembut
Seperti seteguk kopi yang kuubah menjadi susu yang manis hingga tak tersisa
Namun, raga tetaplah sigap dengan senyum yang merekah ramah
Melepaskan duri yang berkecamuk dalam dada
Untuk menatap mentari cerah yang hendak merangkul lembut
Bertemankan heningnya lampu yang ramang-ramang
Serta senandung secangkir kopi yang gelap gulita
Kuteguk tetes demi tetes pekatnya minuman nan gelap itu
Diiringi buaian malam yang hendak menerawang dalam-dalam
Dan cicak yang bersorak ramai nan riuh
Setiap tegukan melukiskan laraku kala itu
Kala aku sulit berpijak di terjalnya kerikil tajam
Kala diriku terlunta akan cemohan para pengais perhatian
Kala diriku terjun dalam rangkulan yang memakan jiwaku perlahan
Berusaha merangkai nada cemohan itu sebagai rangkaian irama yang bernada lembut
Seperti seteguk kopi yang kuubah menjadi susu yang manis hingga tak tersisa
Namun, raga tetaplah sigap dengan senyum yang merekah ramah
Melepaskan duri yang berkecamuk dalam dada
Untuk menatap mentari cerah yang hendak merangkul lembut
Saturday, August 30, 2014
Jika Kelak
Aku dan kamu telah menjadi kita, Ku ingin senantiasa menghabiskan waktu bersamamu
Saling bergurau dengan senyum yang merekah bahagia...
Aku dan kamu telah bersama dalam rumah harapan kita,
Ku ingin rumah itu penuh dengan hawa kebahagiaan yang terpancar dari luar rumah indah kita...
Aku dan kamu telah menjadi imam dan makmum, Ku ingin kau senantiasa berada di belakangmu
Mengikuti setiap alunan langkahmu dalam sholat..
Aku dan kamu telah telah menjadi orang tua,
Ku ingin kita menjadi partner terbaik buat anak-anak kita..
Aku dan kamu mulai rentah termakan oleh kejamnya usia,
Ku ingin kita tetap saling menopang satu sama lain,
Mengisi kerentanan usia kita dengan penuh senyuman..
Thursday, August 28, 2014
Menyayangimu Itu Tidak Salah
Sedikit memposting hasil karya Bos untuk saya
Thank you Bos.. ^_^
Aku mendampingimu ketika flu membuat hidungmu merah
Aku juga akan mendampingimu ketika sehat akan membuatmu kembali berulah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau sedih dan penuh amarah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau bahagia dengan senyum yang merekah
Aku mendampingimu saat kau sibuk dengan tugas kuliah
Aku juga mendampingimu saat kau diwisuda dengan pikiran penuh falsafah
Aku akan mendampingimu ketika lamaran kerjamu ditolak hingga lagi-lagi kau resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kau stres dengan pekerjaanmu terasa susah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau merasa tak berguna dan kalah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau menang hingga sombongmu parah
Aku akan mendampingimu saat kita menabung untuk masa depan dengan susah payah
Aku juga akan mendampingimu saat kita di pelaminan mengikat janji untuk menikah
Aku akan mendampingimu ketika sembilan bulan kita dipenuhi resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kita menjadi bunda dan ayah
Aku akan mendampingimu hingga raga kita rentah dan lelah
Aku juga mendampingimu hingga nafasku berakhir sudah
Karena sampai aku kembali menjadi tanah
Menyayangimu itu tak pernah salah
Thank you Bos.. ^_^
Aku mendampingimu ketika flu membuat hidungmu merah
Aku juga akan mendampingimu ketika sehat akan membuatmu kembali berulah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau sedih dan penuh amarah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau bahagia dengan senyum yang merekah
Aku mendampingimu saat kau sibuk dengan tugas kuliah
Aku juga mendampingimu saat kau diwisuda dengan pikiran penuh falsafah
Aku akan mendampingimu ketika lamaran kerjamu ditolak hingga lagi-lagi kau resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kau stres dengan pekerjaanmu terasa susah
Aku akan mendampingimu sewaktu kau merasa tak berguna dan kalah
Aku juga akan mendampingimu sewaktu kau menang hingga sombongmu parah
Aku akan mendampingimu saat kita menabung untuk masa depan dengan susah payah
Aku juga akan mendampingimu saat kita di pelaminan mengikat janji untuk menikah
Aku akan mendampingimu ketika sembilan bulan kita dipenuhi resah
Aku juga akan mendampingimu ketika kita menjadi bunda dan ayah
Aku akan mendampingimu hingga raga kita rentah dan lelah
Aku juga mendampingimu hingga nafasku berakhir sudah
Karena sampai aku kembali menjadi tanah
Menyayangimu itu tak pernah salah
Sunday, August 17, 2014
Dream of life
Di tengah malam yang makin hening ini
Sejenak menetrasikan fikiran yang kian jenuh
Ku lirik web yang berlogo B
Tempatku menuangkan segala yang pernah singgah dikepalaku
Dan malam yang semakin lirih ini
Sejenak imajinasiku membentuk
Sebuah tempat yang benar-benar menjadi tempat hidupku kelak
Seperti apa, bagaimana, dan kapan, tergores jelas dibenakku
Inilah iras-iras tempat yang kuimpikan hadir kelak..
Sebuah tempat yang tentram
Jauh dari rutinitas yang terjadi seperti di dunia kota
Dengan orang-orang yang senang berbagi senyuman yang tulus
Tak terlalu padat, dan tak terlalu hening juga
Dimana disana terdapat sungai yang mengalir jernih
Pepohonan yang rindang nan sejuk
Terbentang bukit-bukit indah
Dimana aku bisa bercocok tanam
Berbagai sayuran, dan buah-buahan
Dimana aku bisa memelihara ternak-ternak
Yang semuanya bisa aku manfaatkan dan kubagi
Yah, kulakukan pada saat matahari terbangun
Hingga matahari mulai mengantuk
Bertempat tinggalkan rumah yang sederhana
Dengan desain klasik seperti rumah tempo dulu
Yang beberapa bagiannya terdiri dari kayu-kayu nan kuat
Dipenuhi tanaman-naman hias
Dan ketika sang rembulan hendak menyapa
Di sebuah surau, aku melakukan aktivitas kerohanian bersama masyarakat
Dan bercengkrama dengan heningnya malam, melakukan aktivitas paling kusukai
Membaca, menulis, dan hal yang membuat hatiku berdegup riang..
Kan kuhabiskan waktuku dengan penuh damai disana dengan senyuman terindah
Kapan yea?
Subscribe to:
Posts (Atom)





































